Sore Itu

12.23


Ketika akhir dari penantian kewajiban sebulan sekali dalam setahun, aku masih berada dalam jalan menuju peristirahatan dan tempat perbatalannya. Waktu itu mungkin jam di hp ku sudah menunjukkan pukul lima lebih lima belas. Tak hanya itu, perjalananku melawan matahari yang akan kembali ke peraduannya tak kuat aku merasakan keindahannya. Sereretan warna. Kemilau abadi.

Solo - Surakarta
Terlihat di perbatasan bendera merah putih berkibar tertiup angin. Berada di puncak tertinggi bangunan itu. Mungkin belum sewajarnya dikatakan bangunan, tetapi bisa dibayangkan betapa megahnya jika sudah sempurna. Bila pandangan tertuju ke atas percikan api jatuh dibawa angin. Pekerja menyelesaikan tugasnya.
Kerlap lampu-lampu pengendara menambah kilauan pandanganku. Beriringan kembali ke peristirahatan.

Kanan kiri sangat menggoda sebelum waktunya. Dan aku pilih satu yang terlalu menggoda yang aku bawa pulang untuk menemaniku BERBUKA.

Dulu

22.03

Kau telah berjanji menungguku di jalan ini. Setiap hari aku melewatinya, berharap kau sedang duduk di 

kursi dekat toko kelontong itu dan menunggu kedatanganku. Pemilihan tempat bukanlah aku yang 

meminta, tapi kau yang menentukan. 

Aku tidak pernah berkirim surat, meneleponmu sampai sms pun aku tak pernah. Itu semua kulakukan 

karena aku butuh sikapmu untuk menepati janji yang dulu sempat kau ucapkan. Kau pun sama. Tidak 

pernah sms, telepon, bahkan berkirim surat. Aku tidak tahu sekarang kau dimana. Mungkin kau juga 

berpikiran yang sama. 

Tapi entahlah apa yang aku lakukan ini, baik di matamu dan teman-temanku.


Dan..pada saatnya aku menerima kabar darimu,

"Tak usah menungguku, janji yang dulu itu tidak bisa aku tepati, karena aku 

sudah berdua dan kami bahagia."